Sore dan Jingga

 Sore dan Jingga

Suara ramai halaman dipenuhi orang-orang yang bermain. Sore hari memang menjadi waktu yang nyaman untuk bermain karena letak matahari sudah berada di bagian barat dan akan segera tergelam, hingga membuat suasana begitu tenang dan nyaman tidak terlalu panas dan tidak juga terlalu dingin. Begitulah waktu sore tiba.

Orang-orang ramai bermain dihalaman dengan keasikannya membuat diri bahagia. Anak kecil yang bermain dengan teman sebayanya dengan permainan yang membuat mereka bahagia, mereka bermain sepeda, sepak bola, bulu tangkis, bermain petak umpet dan yang paling menyenangkan bermain air hingga membuat baju basah dan orang tua sedikit melarang. Ketika orang tua melarang, ini menjadi sebuah kegiatan anak untuk terus melakukan karena memiliki penasaran yang tinggi ketika ada kata larangan. Melarang yang cocok sepertinya bukan hanya sebuah kata tapi juga harus dibarengi dengan sebuah tindakan.

Orang tua tidak kalah juga ikut bermain, namun tidak bermain seperti anak-anak, orang tua bermain lebih menikmati alamnya sore. Melihat anak-anak dengan kebahagiaannya, melihat pemandangan yang kerap ramai yang membuat kenangan kecil kembali teringat, dan kegiatan membawa anak bayi untuk melihat dan mendengar lingkungan sekitar.

Bukan hanya anak kecil dan orang tua yang senantiasa memanfaatkan sore hari untuk bermain, anak muda pun mengikutinya. Terlihat dalam rumah banyak anak muda yang melintas menggunakan sepedanya untuk mengelilingi jalanan yang panjang, berlari dengan membawa bola voli, dan berdandan rapi dengan teman-temannya. Namun, bagiku yang masih muda, pada sore ini hanya berdiam diri di rumah. Bukan maksud tidak mau bersosial, menikmati sore hari dan bercengkrama dengan orang-orang sekitar, aku hanya sedang ingin berdiam diri di rumah.

Meski sore hari ini cerah dan sangat disayangkan untuk dilewatkan, tetap saja hati ini tidak ingin keluar rumah, menolak untuk mencoba keluar dan mengikuti menikmati alam yang sangat indah dihari sore. Jika bertanya alasannya kenapa tidak mau keluar, sedikitnya aku akan mencoba berbicara tentang alasan. Tapi, nanti setelah jingga datang.

Waktu berjalan dengan cepat hingga tak terasa alam sudah mau gelap. Jingga diujung barat pun telah tiba, membuat aku menarik keluar dari rumah dan melihatnya untuk dinikmati. Sudah lama tak bertemu dengan jingga, hingga akhirnya membuat diri ingin menemani jingga hingga tiada dan tergantikan dengan gelapnya malam.

"Selamat datang kembali jingga yang membuat mata terpesona hingga tak mau terpejam sedetikpun. Sudah lama aku menunggu kedatanganmu karena sejak jatuh sakit aku benar-benar tidak bisa melihatmu kembali. Hingga setelah bangun dari sakit nyatanya engkau sudah memakai iket singger Sunda yang sangat khusus untuk dipakainya. Rasanya saat mengetahui engkau sudah memakai iket singger Sunda, lebih baik melanjutkan sakit dan tidak bangun kembali. Aku putus asa seperti putus asanya Zaenudin setelah mengetahui tangan Hayati telah memakai pacar. Kalau melihat Zaenudin yang memiliki teman untuk menyadarkan terus maju, posisi disini aku tidak ada karena aku hanya memendamnya dan tidak memberitahu kepada siapapun. Terlalu takut jika diceritakan kepada orang lain, takut cerita yang sudah ada harapan namun terpupus begitu saja. Berfikir untuk terus merenung hingga tidur selamanya, namun tidak bisa ada ibu yang selalu berbisik untuk terus bangkit, meski ibu tidak tahu dengan keadaan tapi dia tidak mau anaknya sakit, hingga setiap saat selalu berbisik meski aku tahu bahwa dirinya sedang sakit juga. Proses yang lama berbaring dalam tempat tidur, dan ketika aku memutuskan keluar dari tempat tidur dan pergi keluar rumah pada sore hari melihat senja yang jingga, kudapatkan sepenggal hikmah bahwa senja akan hilang digantikan oleh gelapnya malam".

Jingga, pada hari ini aku tidak pantas untuk terus berharap padamu yang sudah memetik melati dari singger yang engkau pakai. Harus berjalan mendapatkan mentari yang cerah dipagi hari. Membersamai ibu yang terus berjalan dengan penuh kekuatan, membersamai kenangan yang tak pernah terlupakan. 

Jingga, setalah malam tiba aku relakan sebuah kata yang telah tersusun dengan rapi untuk menjadi sebuah kata yang sudah aku beri titik sebagai tanda sudah berakhirnya kata yang panjang ini.

Jingga, aku juga meminta ijin agar aku memulai menulis mentari menjadi sebuah kata yang tersusun rapi seperti halnya kata untukmu. Namun, kata yang kutulis kepada mentari tidak ingin aku kasih titik hingga tangan yang tak terlihat membuat titik itu dengan sendirinya. 

Terima kasih jingga senja yang telah menjadi pesona dalam pandangan mata hingga tak mau berkedip sedetikpun. Telah menjadi tangan pertama yang mengulur dan tentunya yang membuat hati tersenyum dengan indah dan bebas. 


Komentar

Postingan Populer