Terang

    Malam begitu indah, terang. Banyak bintang yang berjajar menghiasi langit, ada bulan sabit yang menemani, dan awan putih yang menghiasi malam. Malam yang sangat cerah. Malam yang indah ini mungkin akan memberikan kabar yang bahagia kepadaku. Kabar yang tak pernah aku ketahui.
    Handphoneku bergetar. Ada pesan singkat dari gugus tugas covid-19 yang selalu mengingatkan untuk selalu siap siaga dalam beraktivitas. Aku kira pesan dari dia. Dia yang sudah lama tak tau kabarnya. Memegang handphone membuat aku selalu ingin membuka whataspp, selalu ada penasaran yang ingin di buka. Aku membuka whataspp, isinya hanya ada chat dari grup yang telah aku bisukan. Grup memang selalu ramai, membuat whatsapp selalu tidak sepi.
    Membuka grup yang ramai terlalu malas, sudah banyak chat yang tidak begitu urgent, chat yang hanya lelucon biasa. Aku memilih melihat status whatsapp. Terpangpang paling atas nama dia yang sudah lama tak ada kabar. Aku klik, menunggu foto terunduh. Kalau paket chat, memang begini, harus selalu sabar dalam menunggu.
    Malam ini bukan kabar bahagia untukku. Malam ini adalah kebahagiaan untuk dia, dia yang sudah lama tak ada kabar. Foto yang aku lihat di statusnya, membuat terkejut. Foto dia yang sudah memakai cincin di jarinya. Itu berarti dia sudah ada yang menkhitbah. Aku tak menyangka ini terjadi. Mengetahui hal ini membuat hatiku hancur, sedih, tapi tak bisa memberontak. Harapan yang telah di tanam kini sudah hilang, hancur terbawa angin malam yang dingin, dan kebahagiaan yang aku harapkan kini sudah beku seperti es. Tidak ada jalan lain, aku harus menyerah sampai di sini. Menyerah dan mengikhlaskan dia.

"Selamat ya!" komentarku dalam status whatsapp.
"Selamat? Untuk?" jawabnya dengan pertanyaan.
"Iya selamat. Selamat telah di khitbah oleh seseorang." 
"Di Khitbah oleh seseorang? Maksudnya? Aku belum paham." 
"Pada jarimu sudah ada cincin, itu berarti kamu sudah ada yang khitbah. Aku mengucapkan selamat kepada kamu." 
"Hahaha … dasar. Jadi soal cincin." 
"Iya itu." 
"Aku kasih tau saja ya. Aku belum di khitbah oleh siapapun. Cincin yang ada di jariku adalah cincin pemberian Ibuku." 
"Serius?" 
"Duarius"
"Tapi…"
"Sudah, jangan tapi-tapi. Ini memang benar pemberian Ibuku. Kalau tidak percaya bisa tanyakan langsung sama Ibuku."

Komentar

  1. Kini sinar terang telah terpancar
    Kaki menggeliat ingin mengejar
    Namun telah tenggelam sang fajar
    Mungkin besok sajalah 😆

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer