Sang Padi Yang Terlupakan
Sang Padi Yang Terlupakan
Ibu Pertiwi. Bangsa yang selalu menjunjung tinggi akan budaya kini kian hari terus meninggalkan budaya leluhur yang begitu kental akan nilai-nilai moral, nilai-nilai yang begitu sederhana tapi akan melekat pada kehidupan yang panjang. Hal ini terjadi dengan hadirnya globalisasi atau modern. Yang katanya maju tapi justru membuat kembali kepada ke bodohan atau perbudakan.
Ibu Pertiwi. Tanahmu yang subur dan luas kini telah banyak di jual keluar demi kepentingan penguasa yang kuat. Tanahmu yang suka dipakai untuk bercocok tanam kini hilang tergantikan oleh gedung yang tinggi dan luas. Padahal bercocok tanam adalah budayamu, Ibu Pertiwi. Budaya yang mengajarkan sebuah kemerdekaan dan menghargai sebuah proses. Dengan bercocok tanam, engkau mengajarkan bahwa tidak akan tumbuh selain apa yang ditanam. Begitulah kira-kira, Ibu Pertiwi.
Sawah-sawah yang subur kini hilang, Ibu Pertiwi. Hilang tergantikan gedung yang tinggi (pabrik-pabrik industri). Hingga ajaranmu mengenai "ilmu padi" telah hilang dan tergantikan dengan "ilmu gedung (pabrik)".
Ibu Pertiwi, hari ini anak-anak mu sudah banyak lupa dengan "ilmu padi". Anak-anak setelah mendapat ilmu, harta, dan tahta tidak lagi merendah. Namun sebaliknya, menjulang tinggi bagaikan "ilmu gedung (pabrik)" yang berdiri kokoh.
Begitu sangat prihatin akan masa depan, Ibu Pertiwi. Ketika anak-anak sudah memikirkan diri sendiri, apa daya orang kecil yang tak bisa apa-apa. Orang kecil yang tak memiliki orang dalam untuk bisa merubah nasib. Sungguh prihatin, Ibu Pertiwi.
Ibu Pertiwi. Eksistensi "ilmu padi" harus kembali tampil. Ajaran ini harus kembali tertanam di lingkungan masyarakat. Harus senantiasa diajarkan kembali dilingkungan pendidikan, sosial dan bermasyarakat. Hal ini dilakukan agar anak-anak kembali ke jalan yang baik, jalan yang senantiasa saling merangkul dan tolong menolong.
Begitulah kira-kira, Ibu Pertiwi. Ajaranmu mengenai "ilmu padi" yang semakin tinggi semakin tunduk harus senantiasa kembali diajarkan dan ditinggikan eksistensinya. Jangan sampai kalah dengan "ilmu gedung (pabrik)" yang semakin tinggi makin tinggi, ajaran yang sedang meraja rela pada sekarang ini.
Pada dasarnya, Ibu Pertiwi. Budayamu senantiasa bergoyang royong bukanlah penjajahan atau menindas kaum kecil.
Komentar
Posting Komentar