Senyum Penutup
Senyum Penutup
Perjalanan mengantarkan barang ke rumah bibi terhenti dengan hujan yang turun dengan lebat. Hujan yang besar yang membasahi tanaman yang hijau, tanah yang kering dan baju yang sudah harum.
Sialnya aku tak membawa jas hujan karena dibawa oleh sang kakak. Hingga akhirnya aku harus berhenti di tempat yang teduh, menunggu hujan reda.
Hujan tak kunjung reda. Hari semakin sore. Hati mulai bimbang. Antara berangkat sambil hujan-hujanan atau berdiam diri di tempat yang teduh menunggu hujan reda.
Menunggu memang selalu membuat sebal, membuat bosan, membuat kesal. Lebih baik aku pergi saja sambil hujan-hujanan, mengenang masa kecil dimana asik ketika ada hujan dan suka bermain bersama air dengan riang. Hujan-hujanan juga sambil mengingat seseorang yang telah lama tak jumpa, namun selalu terkenang akan sebuah pertemuannya.
Rasanya begitu dingin. Lama-kelamaan baju yang basah menyentuh kulit yang tipis hingga sangat terasa dingin sekali. Membuat kulit keriput seakan akan mati.
Perjalanan yang dipenuhi dengan kedinginan dan menembus hujan yang lebat akhirnya telah selesai juga. Rumah bibiku yang baru aku kenal dan tahu telah berada di depan. Aku mengetuk pintu.
"Permisi" ucapku sambil sambil mengetuk pintu.
Tak lama kemudian pintu terbuka. Pintu dibuka oleh seorang gadis yang begitu cantik dengan wajah polosnya. Siapkah gadis ini? Apakah pembantu? Aku rasa bukan, pembantu tidak mungkin secantik ini. Atau anaknya? Ini lebih masuk akal kalau melihat dari wajah, kebebasan sikap dan pakaiannya.
"Ini rumahnya Bi Neng?" tanyaku.
"Iya bener" jawabnya.
"Ini pesanannya" ucapku sambil memberikan barang.
Tak lama kemudian Bi Neng menghampiri ke pintu.
"Eh… ayo masuk dulu." ajaknya.
"Tidak usah, Bi. Mau langsung pulang saja." jawabku.
"Ayo masuk dulu. Baru juga kesini. Kasian juga kehujanan." tanggapnya.
Aku pun mengalah dan masuk ke rumah. Terlebih mengalah karena ingin buang air kecil, sekalian mau ijin ke toilet.
Setelah dari toilet. Aku pun duduk di ruang tamu. Saat akan duduk, gadis itu duduk di kursi. Sudah di pastikan gadis tadi adalah anak dari Bibiku bukan pembantu. Tapi sayangnya saat aku duduk, gadis itu pergi meninggalkan ruang tamu.
"Silakan duduk." ucap Bibiku.
"Baik. Terima kasih, Bi." jawabku.
"Silahkan diminum kopinya. Biar hangat." ucap Bibiku.
Disini percakapan dimulai. Percakapan yang singkat namun sangat berharga.
Awal pertemuan yang sangat singkat namun berkesan. Betapa banyak cerita yang dikeluarkan oleh Bibiku. Tentang masa lalu, masa muda yang begitu seru dan senang. Masa sekarang yang sedang tidak baik-baik saja dengan keadaan Covid-19 dan tentang sang anak yang senantiasa berantem. Disini juga aku ketahui bahwa gadis itu memang anak dari Bibiku. Gadis itu baru masuk SMA.
"Saya pamit pulang, Bi." ucapku.
"Iya. Hati-hati di jalan." jawab Bibiku.
Aku berjalan dari pintu menuju sang motor. Dalam perjalanan kembali bertemu dengan sang Gadis. Gadis anaknya Bibi. Dia tersenyum. Tersenyum dengan sangat manis. Senyumnya begitu sangat mempesona. Senyum ini menjadi senyum penutup di tahun 2020. Wajah polos memang sangat mempesona kalau sedang tersenyum.
Komentar
Posting Komentar