Berhak Mundur
Berhak Mundur
Kakimu melangkah berjalan seperti biasanya. Berjalan dengan bebas tanpa ada rasa kaku yang menimpa, tanpa ada beban yang menghadang dan tanpa ada keraguan yang menghampiri. Benjalan dengan santai dan nyaman.
Kaki yang bebas ini tiba-tiba mendapatkan keraguan, keraguan karena ada yang tumbuh dari dirimu. Tumbuh yang abstrak dan tak bisa dilihat. Iya, engkau merasakan jatuh cinta pada teman yang kau selalu bayangkan, teman yang jauh dari pandangan mata, namun selalu terngiang dalam pikiran.
Seketika jatuh cinta, ketika bertemu dengan dia, dirimu selalu gerogi, dirimu selalu memerah, dan dirimu selalu bahagia meski hanya dapat diketahui oleh diri sendiri. Kalau dia? Entahlah, kamu tidak tahu, kamu tidak bisa membaca apa yang ada dalam hatinya.
Dirimu ingin melepaskan rasa penasaran yang ada dalam hati. Engkau pun akan mencoba berkata jujur kepada dia. Engkau pun membuat rencana agar posisinya pas dan nyaman, sehingga apa yang di harapkan dapat tercapai.
Akhirnya engkau menemukan kesepakatan untuk berjumpa, berjumpa di cafe yang sudah biasa dijadikan tempat berkumpul.
Ketika berjumpa, engkau sudah menyiapkan kata-kata yang pantas, rencana yang tepat dan sedikit romantis. Berbincang dan berbincang hingga akhirnya dia mengeluarkan perkataan.
"Lihat ini." katanya. "Dia orangnya baik, keren, ganteng, sudah bekerja juga. Ah pokoknya sudah bisa dikategorikan cukup." lanjut dia.
"Jlebbb." Hatimu hancur seketika mendengarkan kata-kata itu. Dirimu yang akan mencoba menyakinkan dia untuk dapat berjalan bersama dalam segala hal, kini harus hilang terpupus dengan pilihan dia yang sudah ideal.
Dari sini, engkau pun berdiam diri, tak bisa apa-apa, hanya dapat memberikan keyakinan kepada dia untuk tetap berjuang pada pilihannya.
Dirimu memang pantas untuk mundur dari seseorang yang sudah memiliki pilihan. Mundur sebagai seorang pejuang yang inginkan dia, tapi tidak mundur dengan berteman dengan dia.
Garut, 11 November 2020
Komentar
Posting Komentar